Sabtu, 16 April 2016

Dilema Cup Song

Dilema Cup-Song
Oleh: M. Dhinar Zulfiqar

Jum’at, 15 April 2016
Sebelum aku menceritakan semua, izinkan aku bertanya, tentang berbagai hal yang mungkin cukup sulit untuk menyimpulkannya.

·         Apakah mudah mengumpulkan hampir 30 orang yang memiliki ego dikalangan para remaja 12-15 tahun?
·     
    Bisakah kalian membuat konsep mulai dari 0 sampai 100 % untuk siap ditampilkan pada 2 buah acara besar, dimana kalian sendiri kurang memahami materi yang diamanahkan tersebut?

Itulah aku, seseorang yang mendapatkan amanah tersebut.

Ada kisah menarik yang ingin aku share sebagai catatan perjalanan sekaligus evaluasi untuk kita semua, bagi teman-teman yang ingin belajar.

***

Beberapa bulan sebelum acara besar tahunan sekolah diselenggarakan, seluruh panitia berkumpul untuk membentuk susunan kepanitiaan yang nantinya akan bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan acara. Aku ikut karena tuntutan, karena aku pernah menjadi ketua acara ditahun sebelumnya. Sebagai mantan ketua yang pernah merasakan pahit-manisnya acara, aku bergabung didalam kepanitiaan. Begitulah sistemnya, SC dan OC.

Diskusi demi diskusi kami laksanakan, hingga akhirnya aku menjadi bagian tim olah isi, personil yang mengurusi inti acara baik persiapan, kemauan maupun skill. Dengan kemampuan yang aku miliki, aku menyepakatinya dan mulai bertindak sebagai pelatih, salah satunya adalah Cup-Song.

Cup-Song, singkat namun menantang. Aku berfikir bagaimana caranya sebuah gelas plastik bisa menjadi instrumen yang sangat menarik dengan berbagai bumbu didalamnya. Awalnya ini bukanlah tugas yang aku emban, melainkan temanku yang lain. Akan tetapi berhubung beliau sibuk dan aku adalah satu-satunya tim acara yang senantiasa stay di sekolah, maka aku membantunya. Sedikit demi sedikit, aku memegang penuh amanah Cup-Song.

Mengapa harus Cup-Song? Salah satu tujuan dari acara kami yaitu mengkampanyekan penggunaan tumbler atau botol minum yang bisa digunakan berkali-kali. Harapannya masyarakat sadar akan penggunaan botol sekali pakai yang dapat merusak lingkungan karena sulit diuraikan dan didaur ulang. Itulah sebabnya, salah satu tampilan yang disajikan adalah instrumen Cup-Song.

Pendaftaran pertama, aku sangat optimis karena mendapatkan banyak partisipan yang mendaftar, terutama kelas 7 yang sekelas denganku. Lambat laun jumlah mereka berkurang karena berbagai hal. Ada siswa yang lebih ingin masuk perkusi barang bekas, ada yang bilang terlalu sibuk, ada yang belum memiliki bakat, ada juga yang ikut-ikutan bahkan tidak bertanggung jawab atas pendataan namanya.

Tiap malam aku memperhatikan bagaimana Cup-Song bisa dimainkan secara asyik dan renyah. Meskipun sebelumnya aku pernah melihat penampilan Cup-Song, akan tetapi melatih anak-anak jauh lebih rumit dari yang aku lihat di atas panggung. Tidak jarang aku diskusi bersama anggota tentang konsep dan dasar-dasar Cup-Song hingga akhirnya aku memahami betul bagian-bagian instrumen Cup-Song.

Latihan pertama, aku mencontohkan 3 pola bermain Cup-Song.
Pola 1 : dug – tak – dug – – tak
Pola 2 : dug – dug – pok – – tak
Pola 3 : pok – pok – du-du-dug – pok-tek-tak… pok-tek-pok-tek-pok – dug – tak  

Kebanyakan dari mereka memilih Pola yang ke-3 karena lebih banyak, lebih menarik dan lebih menantang. Begitulah anak-anak muda, ingin selalu tampil eksis meskipun konsep yang aku buat tidak selamanya pola ke-3.

Dalam perjalanannya, aku mendapati banyak kendala, diantaranya acara sekolah yang bejibun, aku harus berada diluar kota selama 1 pekan dan mengistirahatkan seluruh personil Cup-Song. Aku juga dibenturkan dengan job-desc yang kondisinya harus didampingi, tidak bisa ditinggalkan. Disamping itu, banyak dari personil yang akhirnya mengundurkan diri dengan berbagai alasan, ketidakjelasan acara adalah salah satunya. Aku sampai mengemis dan memohon kepada beberapa siswa yang memiliki kemampuan untuk ikut bergabung, disaat itu juga ada siswa yang mau tapi malu, mau tapi sibuk dan mau asalkan dengan teman dekatnya yang satu kelas. Tentu saja aku harus mengajak beberapa siswa lain agar tim Cup-Song menjadi sebuah kelompok yang kompak.

Setelah konsep 60% terbentuk, maka mulailah anak-anak memberikan saran untuk penampilan yang akan dimainkan. Pernah sempat kami membawakan lagu luar negeri yang akhirnya aku tolak dan menggantinya dengan lagu Manuk Dadali & Bogor Kota Beriman dengan 4 orang penyanyi inti. Tentu saja aku harus bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk mengajak mereka latihan, yakni pukul 12.30-13.00. Waktu yang singkat bukan? Betapa bahagianya aku karena ada pengakuan dari tim untuk meluangkan waktunya demi latihan. Mereka mendengarkanku, berkumpul dan fokus, padahal bisa saja mereka asyik ngobrol menunggu jam belajar sesi siang dimulai atau jajan dikantin dengan teman-teman yang lain. Bagiku, latihan Cup-Song, begitu memiliki makna.

Pernah sekali personil kelas 7 dikeluarkan dari kelas karena kami latihan melebihi pukul 13.00. Bukankah itu tidak adil? Kami berusaha semaksimal mungkin sebagai representative program sekolah namun tidak didukung sepenuhnya. Ingin rasanya aku meminta maaf kepada mereka. Tapi, yasudahlah…

Gelas yang menjadi masalah latihan, akhirnya ditanggung oleh rekan panitia agar latihan bisa berjalan rutin. Selalu aku rapikan gelas yang sudah dipakai dan disimpan didalam loker kerjaku agar tidak berserakan dan hilang. Begitulah kami setiap hari, demi mensukseskan acara yang telah dipercayakan kepada kami. Tidak hanya Hari Bumi, tapi juga Open Mind Event orang tua siswa baru, saran yang diajukan oleh Mr. Good.

***

Hari ini…
07:40 Aku datang kesekolah dengan nada & ekspresi seperti biasanya. Lain dari biasanya, aku tidak membawa sepeda karena pagi ini hujan turun sehingga komunitas sepeda diistirahatkan. Selesai shalat dhuha, anak-anak mengikuti sesi mentoring yang membahas tentang “batasan pergaulan ikhwan & akhwat” dengan pembagian kelompok sesuai dengan kelasnya. Beberapa walikelas begitu reaktif menerima saran dari Leader terkait pembahasan ini, berhubung ada beberapa kasus yang sangat tidak mencerminkan diri seorang muslim. Aku memperhatikan mentoring tersebut sampai penutupan.

09.40 Aku mendengar Madam kecewa karena murid-muridnya banyak yang absen/tidak masuk sekolah. 2 orang diantaranya adalah anggota Cup-Song. Awalnya aku merespon dengan biasa, akan tetapi semua berubah ketika Madam memberikan hukuman kepada mereka. Disamping itu, Ia mendapatkan kabar dari salah satu orang tua bahwa seorang siswa akan datang siang, demi mengikuti kegiatan gladiresik Cup-Song di sekolah.

Entah apa yang dipikirkannya, ia langsung memintaku untuk mencoret nama personil Cup-Song dari list dan tidak mengizinkannya ikut. Pernyataan tersebut dipertegas oleh Leader dengan alasan, “siswa yang datang disiang hari, tidak menghargai pembelajaran dipagi hari dan lebih mengutamakan Cup-Song. Tidak masalah ‘kan apabila satu orang kita coret karena hari ini tidak masuk? Tidak mempengaruhi suara & ketukan bukan? Silahkan disuruh pulang!” Hal inilah yang menjadi sebab dari segala kegalauan saya.

Tiba-tiba langit terasa runtuh. Aku adalah orang dibaris terdepan yang mengkoordinir tim Cup-Song. Mendengar pesan tersebut, aku sempat menimpali dan mempertanyakannya terutama alasan 2 siswa Cup-Song yang pagi ini tidak masuk dan ingin datang siang. Menurutku, bukan masalah kehilangan ketukan dan suara, atau jumlah personil, melainkan pengorbanan yang telah dikontribusikan kepada Cup-Song. Waktu istirahat yang tersita untuk latihan, sekaligus momen H-1 menjelang acara berlangsung. Seorang anak izin itu sah-sah saja, terlebih yang memberi kabar adalah orang tuanya. Masalah?

Dalam kondisi tersebut, aku menyadari bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku bukan kepala sekolah ataupun walikelas siswa Cup-Song. Aku juga tidak bisa menantang seseorang yang sikapnya sangat saklek terhadap aturan. Aku mulai dihantui perasaan bersalah. Dalam kebimbangan tersebut, tiba-tiba ada suara Mr. Good yang begitu menyejukkan, seolah kehadirannya dari surga. Ia berkata, “Apakah sanksinya bisa diganti dengan yang lain, tanpa mencoret anggota Cup-Song?”

Meskipun saran tersebut sepertinya diabaikan, setidaknya hal itu telah memberikan titik terang kepadaku. Aku mulai melamun dan terus mencari jalan keluar atas semua yang telah terjadi. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada 2 anak tersebut, berhubung ponsel mereka pasti ada ditangan mereka, tidak seperti siswa disekolah yang tidak memegang ponsel karena dikumpulkan.

Aku memahami kondisi diantara kedua siswa tersebut. Satu diantaranya sakit perut dan satu yang lain sedang melakukan pengayaan ditempat bimbelnya. Pergantian jadwal tersebut dilakukan karena jadwal rutin mingguannya digunakan untuk perform Cup-Song. Betapa dalamnya perjuangan anak tersebut, demi kelulusan UN, demi penampilan Cup-Song, ia harus merubah jadwal dan izin sekolah. Aku paham.

Sesegera mungkin aku memberi kabar kepada keduanya untuk tidak datang disiang hari karena akan ada seseorang yang menyuruhnya pulang. Aku menyayangkan ongkos dan energi yang akan dikeluarkan nantinya. Aku juga meminta kepada orang tua untuk memberikan kabar bahwa ketidakhadirannya disekolah adalah dikarenakan urusan urgent. Khawatir kekecewaan dan kebencian muncul ketika kehadiran disekolah justru tidak diharapkan. Sakit.

Aku tidak mau bersikap su’uzhan/buruk sangka. Mr. Good menyayangkan akan kebijakan yang diputuskan dipagi itu dan mencoba menghiburku untuk tidak memikirkan masalah ini. Akan tetapi, aku menganggap masalah ini adalah masalah yang serius. Antara kehormatan, kepercayaan, emosi, aturan, dan menjaga perasaan orang lain.

Selepas shalat Jum’at, aku berusaha bernegosiasi dengan Leader terkait pesan yang telah disampaikan tadi pagi kepada saya. Hasilnya adalah, Leader mengizinkan dengan syarat izin ke Madam. Sungguh diluar dugaan, do’aku dijabah. Allah maha membolak-balikan hati manusia.

Saat komunitas berlangsung, aku masih melamun memikirkan sesuatu yang masih menempel dikepalaku, tidak terlihat namun memberatkan, ya kondisi personil Cup-Song yang tidak masuk. Menjelang siang, sesuai rencanaku anak-anak tidak datang disiang hari meski tidak ikut gladiresik sekalipun.

Seusai komunitas, acara gladiresik dimulai, seperti dugaanku sebelumnya, tim Cup-Song tidak lengkap karena beberapa diantaranya ada yang mengikuti club & futsal. Waktu terus berjalan, meskipun tidak lengkap, kami tetap melanjutkan acara. Disusul performance Alif bermain solo gitar dan persiapan perkusi.

Kegiatan ditunda karena shalat Ashar. Seusai shalat, aku menghampiri Madam yang sedang merapikan mukena. Aku mengutarakan kembali maksudku, yakni mengizinkan siswa ikut Cup-Song meskipun hari ini tidak hadir. Maka inilah jawabannya,

“Itu keputusan bukan saya yang mengucapkan, melainkan Leader, maka silahkan tanyakan kepada beliau. Ternyata yang ada dipikiran kami adalah hal yang sama. Saya kecewa karena belakangan ini banyak siswa yang absen setiap hari Jum’at karena malas. Selalu saja ada alasan untuk bisa bolos, entah itu sakit, pergi dan lainnya. Saya menyayangkan anak yang hanya datang siang untuk Cup-Song, tidak memperdulikan pembelajaran dipagi hari. Bagi saya itu tidak mencerminkan akhlak yang baik. Seolah sekolah ini milik dia, dan dia bebas berbuat semaunya, maka saya sarankan, untuk yang seperti itu sebaiknya tidak ikut tampil. Saya sih terserah, tergantung kebijakan bapak. Berhubung tidak ada anak yang sengaja datang siang.”

Ada setitik harapan untuk bisa merekrut kembali harapan yang hampir putus diantara aku dan anggota Cup-Song. Hal ini terus menjadi rahasia antara aku, Leader, Madam dan Mr. Good. Tidak ada yang tahu kecuali kami.

***

Sore menjelang maghrib, Madam mengoprek ponselku karena meminta foto latihan untuk dikirimkan ke ponselnya via WhatsApp, seketika aku rebut khawatir riwayat chatnya dibaca, aku menyenggolnya sampai ponselku terjatuh. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Andaikan obrolanku dibaca, mungkin aku akan mendapatkan teguran atau mungkin hanya ketakutanku saja.

Aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mendukung salah satu pihak yang berkepentingan. Aku adalah aku. Aku adalah pelatih Cup-Song, maka aku mempunyai wewenang untuk mensukseskan acaraku, acara semua. Aku tidak ingin mengurangi ekspetasi ketua pelaksana yang hari kemarin melihat hanya karena masalah sepele disekolah. Aku berharap Leader bisa bersikap bijak. Andaikan seorang tidak mengikuti kelas mentoring dengan tema “batasan pergaulan ikhwan dan akhwat,” maka konklusinya adalah mencari informasi tentang tema tersebut, baik itu mencatat atau browsing atau dipresentasikan, kurasa itu lebih nyambung dibandingkan dengan hukuman mencoret keanggotaan Cup-Song.

Urun saran, terkait absen anak dihari Jum’at, mungkin yang menjadi salah satu faktor pemicunya adalah kejenuhan akibat kegiatan yang monoton. Mungkin evaluasinya bisa kita bicarakan agar lebih menarik dan lebih mengesankan dimata dan dihati anak-anak.

Semoga bermanfaat


“Beberapa tokoh dalam cerita ini saya tulis dalam nama samaran…”

Kamis, 07 April 2016

Aku sakit dan aku bergerak!

Hidup itu pilihan, aku sakit dan aku bergerak
Kamis, 7 April 2016

Hari ini, bisa saja aku beristirahat penuh dirumah karena kondisi tubuhku yang kurang fit. Tadi pagi mendadak tubuhku demam, suhu tubuh meningkat dari biasanya saat aku membukakan mata. Alhasil aku malas bergerak dan meminta kepada diri sendiri untuk beristirahat. Dalam keadaan setengah terbangun, aku memanggil ibu untuk mengobati penyakitku dengan menggunakan kop angin dan minyak kayu putih. Seketika aku berbaring sambil diurusi oleh ibu dan aku tertidur.

Matahari mulai memancarkan sinarnya, aku kembali terbangun dengan kondisi tubuh yang mulai pulih dari beberapa waktu sebelumnya. Aku shalat subuh, mengambil makan dan memasak air untuk mandi dengan hitungan waktu yang cukup lama, dengan gerak yang lamban. Ada rasa malas yang timbul untuk pergi ke sekolah karena rasa sakit ini, tak lama kemudian, aku ditelepon oleh rekan kerjaku untuk memberikan surat keterangan sehat milik anak-anak yang aku rapikan sepulang magang Bandung pekan lalu. Aku sudah memberi tahu bahwa surat itu ada disekiar kantor, hanya saja tidak berhasil ditemukan. Berhubung surat tersebut sangat dibutuhkan, aku memaksakan diri untuk pergi kesekolah, lebih siang dari biasanya untuk mencari surat sehat yang menjadi tanggung jawabku.

Sampai disana aku berhasil menemukan kumpulan surat sehat yang dimaksud, tepatnya berada dikolong meja. Mungkin terjatuh karena berbenturan dengan benda lain. Setelah itu aku diminta tolong oleh rekan kerjaku yang lain untuk mengantarkan surat simaksi persiapan Summit Gunung Gede. Dengan perasaan sedikit bimbang, akhirnya aku meladeni tawaran tersebut dan aku yang mengendarai sepeda motornya.

Aku ingat instruksi saat berada di gunung, bahwa kondisi tubuh yang lemah harus diantisipasi dengan cara bergerak. Bergerak dan bergerak. Aku merasa cukup bergerak saat aku berada disekolah, terlebih aku pergi ke Bantar Kemang sebanyak 2x (bolak-balik) untuk memberikan uang simaksi sekolah kepada salah satu mitra yang membantu kami dalam urusan persiapan summit kelas 7 nanti. Aku mendapatkan inspirasi baru saat berdialog dengan guide Gunung Gede tersebut dan kami melakukan shalat Dzuhur berjamaah di mesjid.

Sesampainya disekolah, aku membantu merapikan arsip anak-anak yakni fotokopi kartu pelajar dan surat sehat untuk disusun dan disteples, lalu aku ikut bergabung dengan panitia untuk mendiskusikan hitungan biaya summit tahun ini. Tak kuasa menahan kantuk, aku tertidur.

Adzan Ashar berkumandang, aku terbangun dan melakukan shalat Ashar berjamaah. Tentu saja aku dipertanyakan oleh beberapa siswa, “kemanakah pak Dhinar hari ini?” Ya, aku tidak terlalu show-up pada anak-anak untuk hari ini karena tugas keluar sekolah. Hal tersebut didukung karena amanahku hari ini sedang sakit, tidak masuk sekolah sehingga aku mempunyai banyak waktu senggang disekolah. Hanya sedikit yang dapat aku sampaikan kepada siswa, “aku sakit dan aku perlu istirahat.” Aku juga memberikan sedikit buah-buahan kepada beberapa rekan kerja yang kubeli dari pinggir jalan, sepulang dari pembayaran simaksi.

Setelah anak-anak pulang, aku diajak oleh rekan lama ku untuk pergi membesuk siswa yang sudah 4 hari sakit, namun karena harus menunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pergi menemui siswa lain untuk belajar musik, tentunya dengan guru musik, yang lebih mahir bermain musik. Kesempatan ini aku ambil karena sangat jarang sekali bisa mengajarkan musik bersamaan dirumah siswa berhubung guru musik kami adalah orang sibuk, alasannya kelas memanahnya hari ini sedang libur. Ini merupakan momen pertama untuk bisa sharring.

Disana, kami makan malam disuguhi banyak cemilan. Disela latihan, kami menyempatkan shalat maghrib berjamaah dirumah karena kondisi diluar sedang hujan deras. Setelah itu kami bermain musik kembali sampai adzan isya berkumandang lalu kami berdiskusi tentang banyak hal. Pukul 20:00, kami memutuskan untuk pulang kerumah dan beristirahat. Tak lupa aku mengambil si Acer yang dipinjam untuk mengedit kartu pelajar siswa yang hilang di sekolah.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah:
·         Aku bisa membantu rekan kerja menyelesaikan simaksi
·         Aku mengetahui rumah mitra Gunung Gede dan mendapatkan inspirasi darinya
·         Si Acer bisa bermanfaat untuk 4 orang sekaligus
·         Aku mendapatkan cemilan untuk dibawa pulang, oleh-oleh khas Jawa
·         Aku bisa menikmati buah naga, lemon tea, semangka, tekwan, sop dan jeruk bali
·         Aku bisa tertawa lepas bercanda dengan rekan kerjaku
·         Aku turut membantu menghitung biaya proposal Summit Gunung Gede
·         Aku bisa bersedekah
·         Aku mendapatkan cerita inspirasi tentang “penolakan 3x saat ta’aruf”
·         Aku dibutuhkan untuk menemukan surat sehat dan mensteples kartu pelajar
·         Aku berdiskusi dengan ibu dirumah tentang film jadul, ksatria Ateng di TV kabel

Andai saja hari ini aku memutuskan untuk tetap dirumah sampai esok hari, mungkin hasilnya tidak akan sama. Mungkin aku akan menghabiskan hari ini dengan mengeluh (karena sakit), menonton film box-office diinternet/tv kabel, bermain, bermalas-malasan dan berbaring lesu dirumah. Alhamdulillah Allah memberikanku kesempatan hidup hari ini, terimakasih ya Allah…


Syafakumullah pak Dhinar, semoga lekas sembuh. Amin…

Minggu, 03 April 2016

inspirasi subuh & refleksi malam Magang Bandung

Inspirasi subuh dan refleksi malam Magang Bandung
Jumat, 1 April 2016
Oleh Pak Agus & Pak Yasir
Penginapan Cikutra 5 No. 1 Bandung

Pak Agus – subuh
Temans, banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan rutin tahunan, magang industri kreatif Bandung ini terutama kepada teman-teman SM 1 di Sekolah Alam Bogor. Optimalkan sebaik mungkin dan jangan sampai di sia-siakan. Butuh pengorbanan yang cukup banyak dari anak, guru dan orang tua dalam terlaksananya kegiatan seperti ini. Bersyukur mempunyai latihan penempaan seperti ini tidak seperti kebanyakan orang (untuk seumuran siswa SMP kelas 1).
Belajar pada ahlinya, atau kita sebut magang adalah metode belajar terbaik dibandingkan dengan metode belajar apapun. Magang ini merupakan sesuatu yang dicontohkan Rasulullah saw. kepada kita, bedanya kita hanya lintas kota (Bogor – Bandung) sedangkan Rasulullah saw. pada usia anak-anak sudah melintasi antar negara (Mekkah – Siriah). Ikut keseharian sang maestro, melewati berbagai macam ujian dan jauh sekali dari kondisi yang nyaman (proses penempaan). Meskipun demikian, akan ada hal yang sangat besar yang akan kita nikmati nantinya.
Apa tujuan dari kegiatan ini? Mengapa teman-teman Cinnabar diajarkan membuat patung, Greeneration membuat design tas dan stiker, membuat kaos, gantungan unik Purezento, dan sebagainya?  Apakah kita akan mengikuti jejak usaha mereka? Bisa jadi ya! Satu hal yang pasti, mereka mengajarkan tentang semangat berwirausaha kepada teman-teman semua.
Contoh kisah Suichiro Honda, sejak kecil beliau menggemari dunia otomotif dan sangat sering ia magang ke bengkel, tempat pamannya bekerja. Setelah ia besar, ia berhasil membuat produk otomotif (dengan tahapan yang cukup lama) dan sebelum sukses ia terlebih dahulu menerima penolakan bahkan hujatan dari beberapa orang. Akhirnya ia menjadi salah satu orang sukses masa kini, bahkan anak-cucunya menikmati kesuksesan tersebut (bebas finansial). Itu termasuk contoh magang dan usaha yang nyambung.
Lain cerita dengan Steve Jobs, saat kecil ia magang teknik kaligrafi dan ketika sudah besar menjadi pengusaha ponsel yang paling sukses. Apa hubungannya? Pengalaman magangnya dulu mengasah kepekaan jiwa seni terhadap keindahan hingga akhirnya ia membuat design ponsel baru bernama Iphone, satu-satunya handphone yang memiliki jenis font paling keren. Contoh magang dan usaha yang tidak berkaitan.
Hal yang dilakukan Steve Jobs adalah connecting the dots. Meski ‘ga nyambung’, ia menghubungkan pengalamannya tersebut dengan usahanya. Begitupun teman-teman SM, walaupun ekspedisi dan magang tidak memiliki hubungan, akan tetapi suatu saat nanti akan saling mendukung satu pengalaman dengan pengalaman yang lain.
Perjalanan hidup manusia itu ibarat kita melihat titik terang pada jarak yang jauh. 50 meter, 10 meter mungkin kita masih belum bisa menebak dan melihat dengan baik, namun jika kita terus mendekatinya sampai jarak 2 meter atau 5 cm, maka kita akan yakin tentang benda yang kita fokuskan itu.
Jadikan ini sebagai ajang untuk meningkatkan kapasitas diri. Hakikat belajar, tidak hanya menerima tapi juga memberi. Santri yang hebat tidak hanya belajar dari 1 pesantren, tapi terus melanjutkan ke tempat selanjutnya. Kita pun demikian, harus terus magang ke tempat berikutnya yang lebih hebat dan terus kita palajari ilmunya.
Prinsip dasar berbisnis adalah melayani oran lain. Akan gagal bisnis seseorang kalau tidak bisa melayani orang lain. Bahkan di Gontor,  ada satu pelajaran khusus yang isinya tentang melayani karena begitu pentingnya materi tersebut, luar biasa bukan?
Ada 3 jenis manusia yang ada didunia ini (berdasarkan keadaan & kondisi):
1.      Tidak mengganggu (keberadaan orang level 1 ini antara ada dan tiada)
2.      Menyenangkan orang lain
3.      Bermanfaat/membantu orang lain sehingga dirindukan
Harapannya setelah magang ini selesai, pihak tempat magang menanyakan kabar kita, “anak-anak kemana ya? Bagaimana kabarnya ya?” Hebat jika kita sampai tahap seperti itu. seseorang yang dirindukan.
“Produk bisa berubah tapi prinsip tidak akan berubah.”
“Jangan fokus pada kulit, tapi juga pada inti.”
Hari terakhir, tutup dengan rasa berterimakasih dengan tulus. Mungkin keberadaan kita mengganggu dan merepotkan. Ucapkan permohonan maaf yang mendalam. Jangan lupa terhadap fasilitator yang menemani 1 pekan di Bandung. Semoga ini semua menjadi pengalaman yang berguna bagi kalian kelak.

Pak Yasir – malam
·         Magangnya siswa SMP kelas 1 adalah hal yang tidak biasa bagi orang lain yang seumuran dengan teman-teman. Harapannya ini menjadi pengalaman yang luar biasa.
·         Seseorang akan sukses jika telah berlatih selama 10.000 jam.
·         Sukses itu tidak hanya pada 1 hal melainkan pada berbagai hal.
·         Mungkin magang ini adalah detik pertama atau KM 0 nya teman-teman meraih kesuksesan, bukanlah hal yang mudah untuk bisa melangkah.
·         Zaman pak Yasir dulu yang namanya magang hanya sekedar nonton dan mendengarkan cerita (naik kereta usia 22 tahun untuk berpergian jauh)
·         Masa remaja Rasulullah saw. magang kepada pamannya dan melakukan perjalanan antar negara.
·         Masing-masing tempat magang mengalami kesukseskan yang berbeda, bukan proses yang instan, semua punya kisah masing-masing. Ada rangkaian proses yang harus dihubungkan (connecting the dots), menyambungkan titik dan menjadi titik kehidupan yang menghantarkan pada kesuksesan masa depan dengan mengambil pelajaran.
·         Magang ini digunakan untuk menguji dan membuktikan kesungguhan kan siswa. Allah  akan menguji siapa yang bersungguh-sungguh diantara kalian.

Semoga bermanfaat



Rabu, 20 Januari 2016

Pengajian bulanan Salam Januari 2016 Pak Syaiful Naumin

Pengajian bulanan SDM Salam
Jum'at, 15 Januari 2016
Oleh: Bpk. Syaiful Naumin
Sukses itu mencapai (minimal 1 diantaranya): harta, tahta, kata & cinta.
Ciri orang sukses itu bekerja. "Rumuskan sendiri dan lakukan sendiri maka akan pintar sendiri"
Apa itu bekerja? Beraktifitas? Pengangguran sekalipun memiliki aktifitas, apa bedanya? Bekerja adalah kegiatan yang mendapatkan penghasilan, memperoleh gaji, tunjangan dan sebagainya.
Kenapa bekerja?
1. Mendapatkan materi
2. Menghilangkan stres/malu/ depresi(penelitian dari Oregon University)
3. Menjadikan individu produktif (otot, antibody, kecerdasan, kemampuan) Bekerja = lifestyle
4. Keberhargaan dirinya (dipandang orang, dilihat orang lain, eksistensi, harga diri akan naik jika bekerja)
Itu semua bekerja dalam konteks/dimensi ke-kinian... Hati-hati terjebak dengan rutinitas
Bayangkan:
*mengapa kita melakukan gerak silang saat berjalan? Karena kalau lurus (kaki & tangan kanan kedepan, yang kiri ke belakang), maka tidak ada kuda-kudanya
*coba lihat 1 titik dengan fokus tanpa kedip. Maksimal ± 31 detik. Tidak bisa dipaksakan, karena manusia butuh air yang disemprotkan kelenjar meibomi untuk lensa mata saat kedip
*coba bernafas sambil menelan liur, apakah bisa? Hanya ada 1 saluran di leher kita yang mengatur jalannya udara/air/makanan, tidak bisa bersamaan
Adakah kita berterima kasih terhadap hal-hal kecil tersebut? Sayang sekali jika kita melupakan nilai hakiki tersebut.
Pemimpin perusahaan meubel terkenal pernah berkata: 'saya tidak akan bekerja pada posisi yang sama sampai punya anak' Artinya, dia tidak mau terjebak rutinitas & menginginkan kemajuan Al-hasil perusahaannya melambung tinggi dan sukses
“Pensiunan office boy, sombong? Masuk sebagai A pensiunan A. Adalah orang yang sangat merugi”
Orang yang bisa tumbuh adalah orang yang out of the box
Guru?
Apakah: Jalan, jualan atau bualan? Guru adalah seseorang yang memberi teladan, membentuk karakter anak dan membudayakan perilaku baik
Apakah 'peradaban' atau 'peralatan' yang dikenalkan? *introspeksi
Pekerjaan guru antara lain:
1. Memuliakan diri, memberikan manfaat kepada orang lain
2. Mengangkat harkat dan martabat diri & orang lain
3. Menjadi manusia lain yang dicintai murid (setelah keluarga murid)
Ada guru yang total dengan pekerjaannya, ada juga yang hanya memutar record kehidupannya setiap hari tanpa perencanaan
Yang perlu diperhatikan adalah dimensi: -kini dan nanti -disini dan disana -baik dimata Tuhan & insan
Diantara pahala yang mengalir, seorang guru terdapat disalah satunya: yaitu ilmu yang bermanfaat Ilmu yang diberikan tentu harus ilmu yang baik & bernilai ibadah.
Agar ibadah itu dipenuhi yaitu:
A. Niat karena Allah swt. "Innama almalu binniyati"
Ibunda pak Syaiful bekerja sebagai pengelola sawah orang lain dengan sistem bagi hasil. Suatu hari ibunya memperlihatkan sesuatu di sawahnya, apa yang disampaikannya? "Jika kita menanam padi, rumput akan tumbuh, jika kita menanam rumput, hanya rumput yang tumbuh"
Intinya: bekerjalah dengan niat ibadah, maka rumput (urusan dunia) akan mengikuti dengan sendirinya
Seseorang mendapat gelar "Guru teladan nasional" pada akhir hayatnya karena telah berkarya 17 buku sekolah dan memiliki niat membentuk generasi muda Islam
"Uang adalah akibat" Semakin ikhlas maka pahala semakin mengalir
B. Gunakan seluruh aset diri secara penuh, tak bersisa: .fisik&metafisik: kuat, berani (kerja keras) .otak (kerja cerdas) .hati (kerja ikhlas) Berikan sepenuhnya, maka tugas hilang dengan santai dan gembira serta terus berprestasi
-Kerja Keras
Contoh:
*ELANG (lambang kerja keras), usia 30an tahun pergi ke kutub utara untuk mencukur habis bulunya, menghancurkan kuku & paruhnya untuk mendapatkan yang baru, usianya bertambah
*Chris Langan, IQ 195 hanya menjadi "Penjaga kandang kuda" karena malas
-Kerja Cerdas
Menuliskan catatan kecil sebelum memulai hari & mencatat kejadian unik tiap hari Membawa karung beras menggunakan gerobak/roda 'Rencanakan yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang telah direncanakan' Contoh: Habibi (306 juta per pesawat)& Bill Gates (75 dollar AS setiap langkah)
-Kerja Ikhlas
Hilangkan sifat buruk seperti: galau, dendam, cemburu, egois, suuzhan, dsb.
Lakukan perilaku baik: Luas hati, pemaaf, mengerti orang lain, kasih sayang, husnuzhan, dsb.

C. Luaskan hati, seluas samudra
Sekali melakukan tajdid (berkembang dan bertumbuh)
-deret aritmatika: 2,4,6,8 (orang biasa)
-deret geometri/ukur: 2,4,8,16 (berkembang dengain baik)
-deret perpangkatan (signifikan): 2, 4, 16, 256

Berlyn Academic Music (Idris Sardi) survei 15 anak hebat:
*5 orang belajar 5 jam/hari disekolah menjadi guru musik sekolah
*5 orang belajar + 5 jam dirumah menjadi pemusik handal
*5 orang belajar + 10 jam disetiap waktu menjadi guru besar/maestro musik Menjadi ahli, gunakan metode 10.000 jam

Puisi Pak Syaiful Naumin
Jum'at, 15 Januari 2016
Tut Wuri Handayani
Guruku... Ucapanmu jadi pedoman Tindakanmu jadi panutan Namun gajimu masih mengalami perlambatan
Guruku... Didepan kau jadi teladan Ditengah kau jadi motor pembakar semangat Dibelakang kau jadi pemberi dorongan Tapi didapur kau sulit mengatur menu
Guruku... Banyak sebutan mulia yang kau punya Banyak gelar terhormat yang kau dapat Pahlawan tanpa tanda jasa Pejuang tak kenal putus asa Tetapi mereka tak menduga Kau bergantung dikereta
Guruku... Maafkan kami dan orang tua kami Kau bukan hanya pengasah tapi juga pengasuh Kau tidak hanya berhak atas sebutan tapi juga penghargaan Maafkan kami
Dan puisi ini membuat 3 anak kandung pak Naumin menjadi juara baca puisi Se-Jakarta dalam 3 periode berturut-turut. Ini adalah bukti pak Naumin menghargai seorang 'guru'


Semoga bermanfaat

Minggu, 11 Oktober 2015

kalqulus odoj bogor

Kalqulus ODOJ Bogor
Ahad, 11 Oktober 2015
@Mesjid Raya Bogor
Oleh: Aris Ahmad Jaya
"Sinergi semesta bersama Al-Qur'an"

Pembukaan Akh Fillah:
Tilawah = senam wajah
Saat membaca Al-Qur'an rahang dibuka, volume ditinggikan & suara lepas. Raut muka yang maksimal adalah yang paling bagus.
·         Fathah = mangap
·         Kasrah = nyengir/meringis
·         Dummah = monyong
Al-Qur'an turun dengan ilmu, sehingga harus dibacakan dengan tajwidnya.
"Barangsiapa yang beramal tanpa dibarengi ilmunya maka akan sia-sia"

Sambutan Ust. Riki
Tujuan acara ini:
*agar lebih dekat dengan Al-Qur'an
*semoga istiqomah dengan tilawah
*pendalaman & mengkaji Al-Qur'an (tidak gaptek dengan Al-Qur'an)
*ada juga yang berawal dari kalqulus lalu menikah

"Keluarga Allah swt adalah ahlul qur'an (tidak hanya menghafal dan membaca, tapi juga mengamalkannya) & hamba-hamba yang soleh"

Aris Ahmad Jaya: "Sinergi semesta bersama Al-Qur'an"
1 hal yang penting adalah bahwa kita adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah swt. (At-Tin ayat 4)
*bahagia adalah semua emosi yang lembut, energi yang mampu menggerakan semua sel DNA yang ada disekujur tubuh kita sehingga lebih semangat, optimis & bergairah dalam menghargai apapun
#Sukses: mendapatkan yang diinginkan
#Bahagia: menikmati segala hal
#Mulia: berbagi kebermanfaatan dengan orang lain

Ada berbagai macam orang didunia ini:
-Ada orang sukses jadi dokter tapi tidak menikmati, maka tidak bahagia
-Sukses yang buruk adalah korupsi tersembunyi yang tidak ketahuan aparat
-Ada yang sukses menikah tetapi belum tentu bahagia
-Ada yang ikut odoj tapi tersiksa karena laporan
-Ada orang sukses tapi tidak dikenal (hati-hati ketika meninggal tidak ada yang tahu)
-Harapannya kita menjadi orang sukses yang bahagia dan bermanfaat untuk orang lain

>Video: percobaan bandul
Ada beberapa bandul (dengan berat yang sama) yang digantungkan dengan panjang tali yang berbeda. Ketika 1 bandul digoyangkan, maka bandul dengan panjang tali yang sama akan ikut bergerak (gelombang resonansinya sama), bukan yang paling dekat. Hal ini menandakan bahwa setiap perbuatan seseorang, akan ada yang ikut merasakan/bersimpati mengikutinya.
Misal: hubungan odojer dengan odojer (belum tentu kakak/adik memiliki kesamaan ikatan), atau hubungan penjahat akan senang jika bertemu penjahat, dsb.
"Kita dikenang justru karena mampu memberi & berbagi, bukan meminta"
Bersyukurlah kalau kita dicari saat kita tidak ada, dirindukan pulang kampung, dijenguk saat sakit (dikhawatirkan orang lain). Hindari meminta, mengambil, mengeluh yang membuat orang lain tidak nyaman.
Alkisah, Mas Ridwan mengantarkan anak-anak olimpiade matematika. Akan tetapi ketika sakit, tidak satupun yang menjenguk. Orang tua memiliki persepsi bahwa kewajibannya adalah membayar anaknya, sehingga Mas Ridwan mengubah cara mengajarnya, "dari berbayar jadi seikhlasnya" alhasil, dia dikenal & disenangi banyak orang (tanpa mengurangi konten mengajarnya)
Orang yang setiap harinya mengeluh, dapat dikatakan, "merasakan kematian sebelum mati" Seperti meninggal usia 40 tahun lalu dikubur saat usia 60 tahun

>Video: belajar dari semut
Mengapa semut dari zaman dahulu sampai saat ini masih tetap eksis (tidak punah)? Hal tersebut karena semut rela berkorban untuk sesamanya, dalam hal ini manusia masih kalah dengan semut. Dalam keadaan darurat, semut selalu menyelamatkan telur (generasi masa depan) dan ketika menemukan makanan berkomitmen untuk makan bersama (dengan memberi cairan jejak semut).
Semut yang indibar/ngeyel akan dibunuh pasukannya (lehernya digigit sampai putus. Hukum qisos dilaksanakan untuk mengurangi kejahatan.
"Indonesia lebih banyak kasus pembunuhannya dibandingkan Arab Saudi (paling sedikit) karena hukum qisos terlaksana dengan baik"

Coba amati kalimat:
"Tolong matikan lampu setelah dipakai"
Kalimatnya bagus akan tetapi sifatnya meminta/membebani/menyuruh, sehingga banyak yang mengabaikan (bukan karena malas membaca/tidak peduli)
Sebaiknya:
"Semoga yang mematikan lampu dimudahkan rizkinya & dipanjang usianya, aminn"
 Kalimat tersebut lebih mengarah kepada 'memberi', mungkin akan banyak orang yang merespon untuk mematikan lampu

Laki-laki melamar perempuan karena kenal. Beraktifitaslah yang baik dengan memberi dan berbagi. Nita menjadi yang terbaik akan menjadikan kita yang terbaik
"Syarat doa terkabul adalah kesungguhan & kepantasan, maka berdo'alah terus-menerus"

Derajat kepantasan haji:
1. Sudah punya tabungan haji? Ibarat ingin arisan tapi tidak ikut arisan, do'a & usaha harus konek
2. Sudah pernah manasik? Tidak harus mau haji, yang penting kita mendapatkan energi haji
3. Apakah dirumah ada buku tentang haji & tatacaranya?
4. Apakah dirumah ada gambar kabah?
5. Apakah 35 juta besar? Ayo ubah paradigma kita... 35 juta merupakan 1 juta x 35. 1 juta adalah himpunan Rp 1.000,- x 1.000. Maka buatlah tabungan dari yang terkecil, tuliskan dengan 'labaykallahu-malabayk' sebagai motivasi

"Ingat! Kerbau tidak bisa dimakan utuh, melainkan sesendok-sesendok"

Jika kita menampung air hujan dengan gelas, maka hanya dapat segelas, kalau kita menampung dengan empang, sekalipun kita tertidur akan besar yang kita dapatkan
Cara memantaskan diri?
1. Menerima diri sendiri Laki-laki bersikaplah tegar, muslimah gunakanlah kerudung, kalau tidak berhijab maka dia lupa menjadi manusia. Sebagai umat Islam, maka kita harus shalat, sebagai WNI harus mengikuti tatacaranya, dsb.
2. Bersyukur Menjadi muslim ya bersyukur, memilih menjadi pedagang harus bersyukur. "Anda boleh memilih apapun, tapi konsekwensinya tidak bisa dipilih"
3. Memaafkan Lepaskan masalah kita dengan memaafkan. Ada orang yang galau, diminta mengangkat & membalikan tisu, rasanya begitu ringan. Tapi jika dipegang selama 24 jam? Itulah yang menjadi masalah, maka lepaskanlah. Berat kalau kita harus memikirkan orang yang tidak memikirkan kita
"Tulis orang-orang yang bermasalah & peristiwa yang dibenci lalu maafkanlah"
4. Berusaha untuk berbagi/memberi Kepada pedagang kita apresiasi terkait barang dagangannya, atau berterimakasih kepada supir angkot. Jangan selalu memberi kritik, menyusahkan orang lain

>Video: Anjing ditolong lumba-lumba Menolong/ditolong tidak hanya kepada orang yang kita kenal saja, kepada siapapun dan dimanapun harus dilakukan
Agar kehadiran kita bisa membuat nyaman orang lain adalah memberi lebih dari yang diminta. Saat datang kita salam, lalu bercengkrama, ketika pergi berpamitan, sampai dirumah mengabarkan (memanusiakan orang lain). Insyaa Allah akan dirindukan

"Setiap anak terlahir fitri, begitupun disabilitas/ABK (Anak Berkemampuan Khusus"
*Fajar (cerebal palsi) hafal Al-Qur'an 30 juz
*Ammar Bugis (lumpuh semua kecuali otak) menjadi wartawan & banyak menginspirasi orang lain
*Putri Herlina (malaikat tanpa sayap) terlahir tanpa kedua tangan, sekarang mampu mengabdi pada lembaga pendidikan & menikah

"Mustahil itu tidak ada, kemustahilan hanya melekat pada orang-orang yang tidak percaya"

Apa kekurangan mereka? Apakah Allah menciptakan kekurangan? Itu semua keunikan, bukan kekurangan... "Setiap anak itu unik, dibalik keunikan terdapat kelebihan"

3 tips menemukan kelebihan:
1. Lakukan hal baik & hadapi rasa takut anda dengan yakin dan percaya
2. ATM (Amati - Tiru - Modifikasi) Dekati orang-orang cerdas, lakukan silaturahim & banyak bertanya
3. Fokus terhadap semua yang dilakukan

Magnet positif 5 jari:
1. Jempol: apresiasi, menghargai, menghormati & melayani
2. Telunjuk: fokus
3. Jari Tengah: passion, brand & keunggulan diri
4. Jari Manis: jaringan kerja
5. Kelingking: tidak meremehkan hal kecil (dari air yang kecil menuju parit menuju selokan menuju sungai menuju laut), hal besar dimulai dari hal-hal kecil

"Jangan menjadi orang biasa, karena orang biasa hanya menjalankan cita-cita/tujuan orang lain"

"Jaga kontak/nomor telepon anda, jangan sering diganti"

Bagaimana cara menjadi trainer? Bermula dari dongeng bersambung di TPA dengan modal iqro (untuk membuat anak nyaman). Lalu memenangkan kejuaraan mendongeng, kemudian banyak sharring hingga akhirnya menjadi motivator. Semuanya saling bersinergi.

"Jadilah orang baik dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun, keta'atan kita akan dipandang Allah swt, jangan takut dengan pandangan manusia"

Pertanyaan, silahkan…
Kang Aris: 0812 1046 1034

Kalqulus? Lebih dekat dengan Al-Qur'an...

Semoga bermanfaat


Sabtu, 03 Oktober 2015

kisah 2 tampayan

Senin spirit Senin, 28 September 2015
Oleh: Pak Arief
"Kisah 2 Tampayan"
Alkisah-disebuah desa, terceritakan sesosok kakek tua (sebut saja Pak Tua) yang memiliki 2 tampayan besar untuk mengambil air (tempayan adalah suatu wadah/bejana dari yang terbuat dari tanah liat). Sumber air dan tempat ia tinggal memerlukan waktu tempuh yang cukup jauh, namun kegiatan tersebut selalu ia lakukan karena didesanya kekurangan air (kekeringan). Pak Tua memanggul air yang disimpan dalam 2 tempayan sebanyak 2x sehari, pagi hari untuk keperluan siang dan sore hari untuk keperluan malam.
Suatu hari, salah satu bejananya bocor (retak) sehingga menguras volum air, setetes demi setetes selama melakukan perjalanan. Hingga malam harinya, ketika Pak Tua istirahat, kedua tampayan tersebut saling berdiskusi. Singkat cerita, tampayan yang utuh merasa angkuh & unggul karena berhasil mengangkut air secara penuh, tidak seperti tampayan bocor, yang tidak sanggup membawa air dalam volum yang penuh.
Merasakan perbedaan tersebut, tampayan bocor berkata kepada Pak Tua agar posisinya digantikan dengan tempayan yang baru, yang tidak bocor. Menjawab keluhan dari tampayan bocor, Pak Tua mengajaknya menyusuri jalanan yang tiap hari mereka tempuh selama mengambil air.
Tampak perbedaan diantara jalan setapak yang sering mereka lalui tersebut dalam kurun waktu 2 tahun. Jalan yang dulu gersang, kini menjadi hijau dengan pemandangan aneka bunga-bungaan yang tumbuh disepanjang jalan. Tidak hanya sampai disana, lumut-rumput & tanaman lain yang tumbuh tersebut berlanjut sampai dimana tempat tampayan bocor disimpan.
"Sekarang, coba lihat disebelahmu?" Ucap Pak Tua sambil menunjuk pada tampayan utuh. Kondisinya kering dan tidak ada keistimewaan disana. Mendengar hal tersebut, tampayan bocor merasa senang. 

***

 "Kita harus bisa mengoptimalkan potensi masing-masing"


Semoga bermanfaat